Untuk kau yang sempat hadir.
Apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa.
Jangankan berjumpa, saling sapa pun tidak.
Ooooppss,,mungkin bagimu belum lama ya.
Aku maklumi itu semua, aku hargai kehidupanmu.
Dan kau, entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak.
Mungkin kamu bertanya, kenapa aku menulis ini semua.
Jika kau mengira karena aku ingin mencuri perhatianmu, tentu tidak. Untuk apa?
Lalu jika kau mengira aku ingin mendramatisir keadaan, itupun tidak. Sama sekali tidak.
Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga?
Ku harap kau pernah merindukanku walau hanya semalam saja.
Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa, lalu menangis.
Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah.
Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali melihatmu. Kita terlihat canggung lalu saling akrab sepulangnya.
Aku juga masih ingat betapa indahnya hujan kala itu, kau terus melajukan motor dengan cepat agar aku tidak lama terkena hujan.
Aku hanya bisa bersembunyi sambil mengeratkan pelukan dibalik punggungmu. Kau tidak tahu seberapa banyak aku tersenyum saat itu.
Dan yang ku ingat kau slalu berusaha membuat ku ceria sesaat sebelum jarak memisahkan kita, dan saat-saat itulah aku merasa wanita paling bahagia di dunia.
Kemudian berjanji saling setia, berbicara hingga aku tak kuasa menahan air mata.
Aku tidak peduli apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan memori dalam hidupmu atau tidak.
Yang aku tahu aku merasakannya, cukup aku.
Kau juga bukan kekasih pertama ku atau kedua. Tapi percayalah, kau membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya.
Untuk kau yang sempat hadir.
Maaf aku sempat membuat mu muak, marah hingga menjadi brutal.
Dengan sikapku yang suka membantah, sering mengeluh, banyak meminta, dan sering mendrama dengan sgala masalah.
Kau selalu mengingatkanku, dan lagi aku terlambat menyadarinya.
Aku tahu aku salah, tapi siapa peduli saat itu? Yang aku tau cinta itu menyakitkan ketika kau tidak ada, itu saja. bodoh? Ia sangat bodoh.
Kadang akupun hanya bersedih bila mengingatnya.
Perjalanan kita sangatlah tidak mudah ternyata.
Aku ingat, kita memulai dengan cara yang salah.
Entah aku, atau kau. Tapi aku tak ingin menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan merasa benar, meskipun penuh kebohongan dan ketidakpedulian.
Cukup aku saja yang tahu maksud semuanya.
Perjalanan memang terkadang membuatku terbang, lalu jatuh.
Dan terimakasih kau telah menjadi perjalanan ku.
Hidup kadang terasa manis, semanis martabak coklat kacang yg biasa kita beli. Tapi ada masanya hidup terasa pahit, sama seperti aku yang tidak sengaja meminum kopi tanpa gula.
Dan kamu telah menjadi keduanya di saat yang bersamaan.
Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah hadir lalu pergi. Dan untuk sempat memulai lalu mengakhiri.
Untuk kau yang sempat hadir.
Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu, tapi setelah aku menulis ini semua, aku tak lagi merasakannya.
Aku sedang tersenyum, percayalah aku bahagia.
Tak perlu aku yang merindukanmu lagi, tugasku sudah cukup.
Kini tugasku pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal akan lebih baik, mungkin?
Ahahaaaa... Aku becanda, aku tidak kekanak-kanakan lagi.
Aku hanya berharap aku dan kamu baik-baik saja.
Kita bahagia bersama meski dijalan yang berbeda.
Dan harapan terakhirku adalah suatu saat aku akan bertemu kamu dengan senyuman, tak ada lagi kecanggungan, lalu berbincang.
Dan aku akan mengenalkan seseorang padamu, begitupun sebaliknya.
Ia, seseorang yang aku kenalkan adalah orang yang membuatku tersenyum setelah kamu membuatku menangis.
Dan kamu mengenalkan seseorang yang kamu ajak tersenyum, ketika aku sedang menangis.
Untuk kau yang sempat hadir
*SHS
Aku merasa cukup, dan aku pergi.
Apa kabar? Sudah lama kita tak jumpa.
Jangankan berjumpa, saling sapa pun tidak.
Ooooppss,,mungkin bagimu belum lama ya.
Aku maklumi itu semua, aku hargai kehidupanmu.
Dan kau, entahlah masih peduli dengan hidupku atau tidak.
Mungkin kamu bertanya, kenapa aku menulis ini semua.
Jika kau mengira karena aku ingin mencuri perhatianmu, tentu tidak. Untuk apa?
Lalu jika kau mengira aku ingin mendramatisir keadaan, itupun tidak. Sama sekali tidak.
Aku menulis semua ini hanya karena rindu. Tak pernahkah kau merasakannya juga?
Ku harap kau pernah merindukanku walau hanya semalam saja.
Setidaknya kau mengingat bagaimana aku tertawa, lalu menangis.
Setidaknya kau mengingat bagaimana susahnya berusaha dan mudahnya menyerah.
Aku masih ingat betapa lucunya saat pertama kali melihatmu. Kita terlihat canggung lalu saling akrab sepulangnya.
Aku juga masih ingat betapa indahnya hujan kala itu, kau terus melajukan motor dengan cepat agar aku tidak lama terkena hujan.
Aku hanya bisa bersembunyi sambil mengeratkan pelukan dibalik punggungmu. Kau tidak tahu seberapa banyak aku tersenyum saat itu.
Dan yang ku ingat kau slalu berusaha membuat ku ceria sesaat sebelum jarak memisahkan kita, dan saat-saat itulah aku merasa wanita paling bahagia di dunia.
Kemudian berjanji saling setia, berbicara hingga aku tak kuasa menahan air mata.
Aku tidak peduli apakah aku cinta pertamamu atau bukan. Aku menyimpan memori dalam hidupmu atau tidak.
Yang aku tahu aku merasakannya, cukup aku.
Kau juga bukan kekasih pertama ku atau kedua. Tapi percayalah, kau membuatku mengenal banyak hal untuk pertama kalinya.
Untuk kau yang sempat hadir.
Maaf aku sempat membuat mu muak, marah hingga menjadi brutal.
Dengan sikapku yang suka membantah, sering mengeluh, banyak meminta, dan sering mendrama dengan sgala masalah.
Kau selalu mengingatkanku, dan lagi aku terlambat menyadarinya.
Aku tahu aku salah, tapi siapa peduli saat itu? Yang aku tau cinta itu menyakitkan ketika kau tidak ada, itu saja. bodoh? Ia sangat bodoh.
Kadang akupun hanya bersedih bila mengingatnya.
Perjalanan kita sangatlah tidak mudah ternyata.
Aku ingat, kita memulai dengan cara yang salah.
Entah aku, atau kau. Tapi aku tak ingin menyalahkan siapapun, karena untuk masalah perasaan semua orang akan merasa benar, meskipun penuh kebohongan dan ketidakpedulian.
Cukup aku saja yang tahu maksud semuanya.
Perjalanan memang terkadang membuatku terbang, lalu jatuh.
Dan terimakasih kau telah menjadi perjalanan ku.
Hidup kadang terasa manis, semanis martabak coklat kacang yg biasa kita beli. Tapi ada masanya hidup terasa pahit, sama seperti aku yang tidak sengaja meminum kopi tanpa gula.
Dan kamu telah menjadi keduanya di saat yang bersamaan.
Sekali lagi, terimakasih. Untuk pernah hadir lalu pergi. Dan untuk sempat memulai lalu mengakhiri.
Untuk kau yang sempat hadir.
Aku tadi bilang bahwa aku merindukanmu, tapi setelah aku menulis ini semua, aku tak lagi merasakannya.
Aku sedang tersenyum, percayalah aku bahagia.
Tak perlu aku yang merindukanmu lagi, tugasku sudah cukup.
Kini tugasku pergi lalu menghilang. Untuk tak saling mengenal akan lebih baik, mungkin?
Ahahaaaa... Aku becanda, aku tidak kekanak-kanakan lagi.
Aku hanya berharap aku dan kamu baik-baik saja.
Kita bahagia bersama meski dijalan yang berbeda.
Dan harapan terakhirku adalah suatu saat aku akan bertemu kamu dengan senyuman, tak ada lagi kecanggungan, lalu berbincang.
Dan aku akan mengenalkan seseorang padamu, begitupun sebaliknya.
Ia, seseorang yang aku kenalkan adalah orang yang membuatku tersenyum setelah kamu membuatku menangis.
Dan kamu mengenalkan seseorang yang kamu ajak tersenyum, ketika aku sedang menangis.
Untuk kau yang sempat hadir
*SHS
Aku merasa cukup, dan aku pergi.
0 komentar:
Posting Komentar